BANGKA SELATAN — Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kembali menjadi sorotan petani di Kabupaten Bangka Selatan. Di tengah kondisi tanaman sawit yang mulai memasuki musim trek atau produksi buah menurun, harga di tingkat pabrik justru disebut masih berada di angka sekitar Rp3.010 per kilogram.
Kondisi tersebut dikeluhkan salah seorang petani sawit yang meminta namanya tidak dipublikasikan. Saat ditemui di depan Gedung Nasional Toboali, Selasa (29/9/2026), ia mengatakan harga sawit di Pabrik TBJ Jeriji saat ini berada di kisaran Rp3.010 per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan pola yang dirasakan petani pada tahun-tahun sebelumnya. Ketika produksi sawit mulai menurun atau memasuki musim trek, harga biasanya diharapkan mengalami kenaikan karena pasokan buah ke pabrik berkurang.
“Harga sawit di pabrik TBJ Jeriji sekarang Rp3.010. Padahal sawit sedang trek. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat sawit mulai trek biasanya harga naik karena buah di pabrik berkurang,” ujar petani tersebut.
Keluhan petani semakin berat karena kondisi cuaca panas yang disebut telah berlangsung sekitar tiga bulan. Menurutnya, kondisi tersebut turut memengaruhi produksi tanaman sawit.
Di sisi lain, petani juga mengaku kesulitan melakukan pemupukan karena harga pupuk yang dinilai masih menjadi beban bagi biaya produksi.
“Cuaca panas sudah sekitar tiga bulan. Kami juga sudah tidak melakukan pemupukan. Kami berharap Dinas Pertanian bisa membantu bagaimana harga sawit jangan sampai turun lagi dan harga pupuk juga bisa turun,” katanya.
Ia menuturkan, kondisi tanaman sawit saat ini membuat ketersediaan buah semakin terbatas. Jika harga terus mengalami tekanan ketika produksi sedang menurun, petani khawatir pendapatan mereka semakin tergerus.
“Stok buah dari pohon sawit sudah mau habis. Kalau harga turun lagi, kami sebagai petani semakin berat,” ujarnya.
PETANI MENUNGGU PERHATIAN PEMERINTAH
Persoalan harga TBS bukan hanya menyangkut angka jual beli buah sawit, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi petani. Ketika produksi menurun sementara biaya perawatan dan pupuk tetap tinggi, selisih pendapatan petani berpotensi semakin tipis.
Karena itu, petani berharap pemerintah daerah maupun instansi yang membidangi perkebunan dan pertanian dapat turun tangan melihat kondisi yang mereka hadapi, termasuk persoalan harga TBS, ketersediaan serta harga pupuk, dan kondisi produksi sawit di lapangan.
Petani berharap persoalan tersebut tidak hanya dilihat dari sisi harga, tetapi juga dari kondisi nyata yang sedang mereka hadapi.
Redaksi masih menunggu hak jawab dan klarifikasi dari pihak Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terkait keluhan petani mengenai harga TBS sawit, kondisi musim trek, serta persoalan pupuk tersebut. ( Abi )

