Sarbudiono, S.Pd: Keluarga Bukan Sekadar Tempat Tinggal, tetapi Fondasi Masa Depan Bangka Barat

Bangka Barat Bangka Belitung Daerah Pendidikan
Advertisements
Advertisements

MENTOK, BANGKA BARAT— Piala bisa disimpan. Penghargaan bisa menjadi arsip. Tetapi pekerjaan membangun manusia tidak memiliki garis akhir yang jelas.

 

Itulah yang menjadi perhatian Sarbudiono, S.Pd., setelah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A2KB) Kabupaten Bangka Barat meraih Juara I Kategori Umum dalam Lomba Apresiasi Parasamya Karya Kencana Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2026.

 

DP3A2KB Bangka Barat meraih skor 4.446. Nilai tersebut mengungguli DPPKBPMD Kabupaten Belitung yang memperoleh skor 4.110.

 

Alih-alih menjadikan penghargaan sebagai alasan untuk berpuas diri, Sarbudiono justru melihatnya sebagai tantangan untuk memperkuat program pembangunan keluarga di tengah masyarakat.

 

“Kita tidak boleh jumawa, tapi kita harus terus meningkatkan peran semuanya secara maksimal. Mudah-mudahan kita bisa mencapai prestasi di tingkat nasional. Lebih utamanya adalah bagaimana kita semua bisa mengimplementasikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat Bangka Barat,” ujar Sarbudiono saat diwawancarai, Kamis (20/8/2026).

 

Menurut Sarbudiono, Parasamya Karya Kencana bukan hanya perlombaan untuk menentukan daerah yang mendapatkan nilai tertinggi.

 

Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi pemerintah pusat melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN terhadap pemerintah daerah yang dinilai memiliki kinerja baik, inovatif, dan berkelanjutan dalam menjalankan program keluarga berencana serta pembangunan keluarga.

 

Penilaian dilakukan melalui sejumlah aspek.

 

Di antaranya inovasi atau praktik baik, administrasi program, pencatatan, penginputan dan publikasi kegiatan, tata kelola, kebijakan, capaian, hingga implementasi.

 

Karena itu, skor 4.446 yang diraih Bangka Barat tidak muncul begitu saja.

 

Ada kerja administrasi, koordinasi, pelayanan, inovasi dan kolaborasi lintas sektor di balik angka tersebut.

 

“Nilai capaian tersebut adalah proses kolaborasi semua tim dan kerja sama semua pihak atau stakeholder,” kata Sarbudiono.

 

Ia menyebut organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, BUMN, BUMD, hingga masyarakat ikut berperan dalam proses tersebut.

 

Menurutnya, komunikasi yang semakin intensif menjadi salah satu dampak penting dari proses penilaian.

 

“Banyak hal yang cukup membawa manfaat besar bagi tim adalah intensnya komunikasi, edukasi dan kolaborasi semua pihak sehingga lebih menguatkan kualitas kerja sama yang baik,” ujarnya.

 

Di balik berbagai program DP3A2KB, Sarbudiono melihat satu tujuan besar: membangun manusia.

 

Menurut dia, pembangunan sumber daya manusia tidak baru dimulai ketika seorang anak masuk sekolah atau ketika seseorang memasuki dunia kerja.

 

Fondasinya telah dibentuk sejak berada di keluarga.

 

Keluarga menjadi tempat pertama seorang anak mengenal bahasa, pendidikan, kesehatan, disiplin, kasih sayang, serta cara menghormati orang lain.

 

“Jika ingin pembangunan berhasil, maka mulailah dari pembangunan keluarga. Keluarga adalah pendidik pertama dan utama. Maka pendidikan yang pertama adalah pendidikan dalam keluarga,” tuturnya.

 

Karena itu, pengendalian penduduk dan pembangunan keluarga tidak hanya berkaitan dengan persoalan keluarga berencana. Program tersebut juga menyentuh kualitas kehidupan keluarga dan perlindungan seluruh anggotanya.

 

Kesehatan, pendidikan, kehidupan sosial, serta perlindungan perempuan dan anak menjadi bagian dari upaya tersebut.

 

Bagi Sarbudiono, keluarga merupakan fondasi pembangunan daerah.

 

Di dalam keluarga, karakter seorang anak mulai dibentuk. Kebiasaan hidup sehat diperkenalkan. Pendidikan pertama berlangsung. Perlindungan seharusnya diberikan.

 

Karena itu, pembangunan keluarga bukan pekerjaan satu instansi.

 

Pemerintah daerah, desa, petugas lapangan, lembaga terkait, hingga keluarga sendiri memiliki tanggung jawab.

 

Bangka Barat masih memiliki sejumlah target yang ingin dicapai.

 

Sarbudiono menyebut peningkatan angka harapan hidup dan angka partisipasi pendidikan, termasuk APK, APM dan APS. Ia juga menargetkan angka pernikahan dini dapat ditekan hingga berada di bawah satu persen.

 

Persoalan stunting juga menjadi bagian dari perhatian pembangunan keluarga.

 

Bagi pemerintah, semua itu dapat terlihat sebagai indikator pembangunan.

 

Namun bagi masyarakat, indikator tersebut memiliki makna yang lebih konkret.

 

Angka harapan hidup berkaitan dengan kesehatan dan usia masyarakat. Angka partisipasi pendidikan berkaitan dengan kesempatan anak-anak bersekolah. Penurunan pernikahan dini berkaitan dengan masa depan remaja. Sementara persoalan stunting berkaitan dengan tumbuh kembang generasi mendatang.

 

Karena itu, pembangunan keluarga pada akhirnya merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

 

Sarbudiono mengatakan sejumlah pelayanan terus didorong agar lebih mudah diakses masyarakat.

 

Mulai dari pelayanan keluarga berencana, bimbingan pranikah, kesehatan, pendidikan, hingga perlindungan perempuan dan anak.

 

Namun keberhasilan program, menurutnya, tidak cukup diukur melalui laporan administrasi.

 

Program baru benar-benar berarti jika masyarakat merasakannya.

 

Misalnya ketika pasangan mendapatkan pengetahuan sebelum menikah, seorang ibu memperoleh pelayanan KB, seorang anak mendapatkan perlindungan, keluarga lebih memahami kesehatan dan anak-anak tetap dapat mengenyam pendidikan.

 

Sarbudiono menegaskan tidak ada satu pihak yang dapat mengklaim keberhasilan pembangunan keluarga.

 

“Semua memiliki peran masing-masing dan semua berperan penting dalam mencapai kualitas pembangunan keluarga,” katanya.

 

Pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, petugas lini lapangan, serta keluarga menjadi bagian dari proses tersebut.

 

Ia menyebut keluarga sebagai motor pertumbuhan sumber daya manusia.

 

“Keluarga adalah motor tumbuh dan berkembangnya SDM pembangunan,” ujarnya.

 

Sarbudiono juga menekankan pentingnya pemenuhan delapan fungsi keluarga. Menurut dia, keluarga yang utuh dan berkualitas akan memberikan pengaruh terhadap kualitas kehidupan masyarakat.

 

“Jika suatu daerah memiliki keluarga-keluarga yang utuh dan berkualitas, idealnya delapan fungsi keluarga terpenuhi, maka kualitas kehidupan masyarakat di daerah tersebut pasti baik,” katanya.

 

Penghargaan Parasamya Karya Kencana menjadi capaian penting bagi Bangka Barat. Tetapi bagi Sarbudiono, piala tersebut tidak boleh membuat pekerjaan berhenti.

 

Ia berharap prestasi itu dapat dilanjutkan hingga tingkat nasional.

 

Namun target yang lebih penting adalah memastikan berbagai program pembangunan keluarga benar-benar hadir di tengah masyarakat.

 

Sebab mendapatkan penghargaan dapat dilakukan dalam satu momentum.

 

Sementara membangun keluarga membutuhkan waktu.

 

Membangun manusia membutuhkan kesabaran.

 

Membangun sumber daya manusia membutuhkan satu generasi atau bahkan lebih.

 

Karena itu, pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang jalan, gedung, investasi, atau angka pertumbuhan ekonomi.

 

Ada pembangunan yang berlangsung di rumah-rumah, ketika orang tua mendidik anak, ketika keluarga menjaga kesehatan, ketika anak tetap bersekolah dan ketika perempuan serta anak memperoleh perlindungan.

 

Di situlah Sarbudiono menempatkan makna penghargaan yang diraih Bangka Barat.

 

Bukan semata soal siapa yang menjadi juara.

 

Melainkan tentang bagaimana sebuah daerah mempersiapkan manusia untuk masa depan, dimulai dari tempat pertama manusia belajar tentang kehidupan di dalam keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *