BANGKA SELATAN – Penderitaan petani kelapa sawit swadaya di Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kian memprihatinkan.
Di tengah harga tandan buah segar (TBS) sawit yang tak kunjung naik, kini para petani juga harus menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melahap kebun mereka.
Kondisi tersebut membuat petani semakin terpuruk. Belum selesai menghadapi tekanan ekonomi akibat harga sawit yang belum membaik, mereka kini harus berjuang menyelamatkan tanaman yang menjadi sumber penghidupan keluarga.
Salah satu petani sawit di Bangka Selatan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Selasa (13/10/2026), mengungkapkan bahwa dirinya dan petani lainnya kewalahan menghadapi kebakaran yang melanda lahan perkebunan mereka.
“Kami kewalahan, Bang, dengan kebakaran hutan di lahan kebun sawit kami. Ku sampai demam memadamkan api di kebunku,” ungkapnya.
Ia menuturkan, penderitaan petani semakin berat karena kebakaran terjadi saat harga sawit belum juga menunjukkan kenaikan yang diharapkan. Bahkan, menurut pengakuannya, hampir setengah dari tanaman sawit miliknya telah hangus terbakar, dan juga lahan milik temannya sudah ludes terbakar
Ditambah harga sawit tak kunjung naik. Sudah hampir setengah pohon sawit kami dimakan api (terbakar). Peran pemerintah daerah Kabupaten Bangka Selatan kelihatan cuma setengah-setengah untuk memadamkan api di lahan kebun sawit kami,” keluhnya.
Petani Berjuang Sendiri, Pemerintah Diminta Lebih Sigap
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi kebakaran di kawasan perkebunan masyarakat. Bagi petani swadaya, kebun sawit bukan sekadar lahan pertanian, melainkan sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ketika tanaman terbakar, petani bukan hanya kehilangan potensi hasil panen, tetapi juga menghadapi ancaman hilangnya pendapatan dalam jangka panjang. Kondisi tersebut semakin berat ketika harga TBS belum memberikan harapan pemulihan ekonomi.
Petani tersebut berharap pemberitaan ini dapat menjadi perhatian serius Bupati Bangka Selatan agar segera mengambil langkah nyata dalam mengantisipasi kebakaran di wilayah rawan.
“Kami berharap dengan berita ini, Bapak Bupati Basel memerintahkan personel pemadam kebakaran (Damkar) untuk siap siaga di lokasi-lokasi rawan kebakaran,” harapnya.
Menurutnya, kesiapsiagaan petugas sangat dibutuhkan agar kebakaran dapat ditangani lebih cepat sebelum meluas dan menghanguskan lebih banyak kebun masyarakat.
Persoalan harga sawit yang tak kunjung naik sebelumnya juga menjadi keluhan petani swadaya di Bangka Selatan. Kini, ancaman kebakaran lahan menambah beban yang harus mereka tanggung.
Petani membutuhkan perhatian nyata, baik dalam upaya pengendalian kebakaran maupun kebijakan yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah daerah diharapkan tidak hanya hadir melalui imbauan, tetapi juga memastikan kesiapan personel, peralatan pemadam, koordinasi lintas instansi, serta respons cepat di wilayah yang terancam kebakaran.
Pertanyaan yang kini muncul adalah: ketika petani berjibaku memadamkan api hingga jatuh sakit dan kebun mereka hangus terbakar, sejauh mana pemerintah mengetahui kondisi yang mereka hadapi dan langkah konkret apa yang telah disiapkan?
Redaksi juga telah berupaya meminta keterangan dari Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kabupaten Bangka Selatan terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan di area perkebunan petani. Hingga berita ini diterbitkan, jawaban dari pihak terkait juga belum diterima.
Redaksi tetap membuka ruang klarifikasi dan akan memuat tanggapan dari pihak-pihak terkait setelah diterima sesuai dengan prinsip keberimbangan dan kode etik jurnalistik.
Penderitaan petani sawit Basel tidak seharusnya dibiarkan berlarut-larut. Mereka membutuhkan respons nyata, bukan sekadar janji. Ketika api mengancam sumber penghidupan masyarakat, kehadiran pemerintah yang cepat, tanggap, dan terukur menjadi kebutuhan mendesak. ( Abi )

