BANGKA BELITUNG – Sejumlah status WhatsApp yang berisi penolakan terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) menjadi perbincangan di tengah masyarakat Bangka Belitung. Beragam tanggapan pun bermunculan dari warga yang memiliki pandangan berbeda terkait isu tersebut.
Salah seorang warga yang meminta namanya tidak dipublikasikan menyampaikan kekhawatirannya terhadap meningkatnya kasus HIV/AIDS di Bangka Belitung. Menurutnya, masyarakat perlu menjaga generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam perilaku seksual yang berisiko.
“Menurut saya, kita harus menjaga anak cucu kita. Saya khawatir dengan meningkatnya kasus HIV/AIDS,” ujarnya.
Sementara itu, warga lainnya yang berinisial D juga menyampaikan pandangannya saat dikonfirmasi di kediamannya pada Selasa, 4 Agustus 2026.
“Saya setuju LGBT ditolak karena menurut saya dapat menjadi sumber penyakit kelamin. Yang terpenting, LGBT juga dianggap menolak kodrat dari Yang Maha Kuasa. Dalam keyakinan saya, kisah Nabi Luth menjadi pelajaran mengenai larangan terhadap perilaku tersebut,” kata D.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa HIV/AIDS tidak disebabkan oleh identitas atau orientasi seksual seseorang. Menurut penjelasan medis, HIV menular melalui perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta dari ibu kepada bayi. Karena itu, pencegahan HIV/AIDS difokuskan pada edukasi, perilaku yang aman, pemeriksaan kesehatan, dan akses terhadap layanan kesehatan.
Perdebatan mengenai LGBT sendiri masih menjadi isu yang memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat, baik dari sisi agama, budaya, maupun hak asasi manusia. Dalam menyikapi perbedaan tersebut, masyarakat diharapkan tetap mengedepankan etika, tidak melakukan kekerasan maupun perundungan, serta mengutamakan penyampaian pendapat secara damai sesuai ketentuan hukum yang berlaku. ( Abi )

