Malam-Malam Mesin Tambang Ilegal Berderu, Tradisi Sungkur Nelayan Tempilang Menunggu Kepastian

Bangka Barat Bangka Belitung Daerah Pertambangan Timah Pt Timah Tambang Ilegal
Advertisements
Advertisements

MENTOK, BANGKA BARAT— Aktivitas penambangan timah yang diduga ilegal ditemukan di kawasan pesisir Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Aktivitas pengerukan disebut bersinggungan dengan kawasan mangrove yang selama ini menjadi habitat biota sekaligus ruang hidup nelayan.

 

Penelusuran lapangan pada Kamis (27/8/2026) menemukan adanya aktivitas pengerukan di kawasan pesisir tersebut. Sejumlah bagian kawasan terlihat mengalami perubahan akibat aktivitas pertambangan.

 

Yang menjadi perhatian, aktivitas pertambangan tidak hanya berlangsung pada siang hari. Mesin juga disebut tetap beroperasi saat malam.

 

Ketika sebagian warga mulai beristirahat, suara mesin terdengar dari kawasan pesisir. Cahaya lampu kerja terlihat menerangi lokasi pengerukan tanah dan lumpur.

 

Jika aktivitas tersebut tidak mengantongi izin, persoalan yang muncul bukan hanya terkait pertambangan ilegal. Kerusakan mangrove juga berpotensi berdampak terhadap ekosistem serta mata pencaharian masyarakat pesisir.

 

Mangrove memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir. Vegetasinya membantu menahan sedimen dan melindungi garis pantai, sementara kawasan perakarannya menjadi tempat hidup dan berlindung berbagai organisme.

 

Bagi nelayan Tempilang, keberadaan ekosistem pesisir juga berkaitan dengan aktivitas menangkap udang rebon menggunakan sungkur.

 

Ali (56), nelayan yang telah puluhan tahun menggunakan sungkur, mengatakan perubahan lingkungan membuat keberadaan tradisi tersebut semakin mengkhawatirkan.

 

“Kalau tempat rebonnya rusak, sungkur mau dibawa ke mana?” kata Ali.

 

Sungkur merupakan alat tangkap tradisional berupa kayu panjang dengan jaring berbentuk segitiga di ujungnya.

 

Meski sederhana, penggunaannya membutuhkan pengetahuan mengenai kondisi laut. Nelayan harus memahami waktu munculnya rebon, membaca arah angin, mengetahui pasang surut, serta mengenali karakter lumpur dan warna air.

 

Pengetahuan tersebut diperoleh dari pengalaman dan diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Tradisi sungkur bergantung pada keberadaan ekosistem yang mendukungnya.

 

Ada perairan dangkal, kawasan berlumpur, rebon, mangrove, serta nelayan yang terus mempertahankan pengetahuan tersebut.

 

Jika habitat rebon terganggu dan hasil tangkapan menurun, nelayan dapat semakin jarang menggunakan sungkur.

 

Kondisi itu kemudian berpotensi memutus proses pewarisan pengetahuan kepada generasi muda.

 

Sungkur yang selama ini menjadi alat menangkap rebon bukan hanya benda atau alat produksi. Di dalam penggunaannya terdapat pengetahuan lokal mengenai kondisi pesisir yang terbentuk selama bertahun-tahun.

 

Karena itu, kerusakan ekosistem dapat membawa dampak lebih jauh terhadap keberlanjutan tradisi masyarakat.

 

 

Aktivitas Malam Disorot

 

Aktivitas pertambangan pada malam hari juga menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan kawasan pesisir.

 

Bagaimana aktivitas tersebut dapat berlangsung ketika malam hari?

 

Siapa yang melakukan pengawasan?

 

Apabila ditemukan pelanggaran, siapa yang akan menghentikan aktivitas tersebut?

 

Pengawasan menjadi penting karena kerusakan lingkungan dapat berlangsung kapan saja.

 

Mesin tambang dapat dipindahkan, hasil timah dapat dijual dan pekerja dapat meninggalkan lokasi. Namun kerusakan ekologis membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.

 

Mangrove yang rusak tidak serta-merta kembali seperti semula setelah aktivitas pengerukan dihentikan.

 

Begitu pula dengan tradisi masyarakat. Ketika lingkungan yang menjadi ruang hidup tradisi berubah, penghentian aktivitas perusak tidak otomatis mengembalikan pengetahuan yang telah hilang.

 

Upaya rehabilitasi mangrove selama ini dilakukan di berbagai daerah melalui penanaman bibit dan pelibatan masyarakat.

 

Namun penanaman tidak cukup jika kawasan mangrove yang masih ada tidak dilindungi.

 

Mangrove membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan membentuk ekosistem. Karena itu, menjaga kawasan yang masih tersisa menjadi bagian penting dari pemulihan lingkungan.

 

Kondisi di Tempilang menjadi pengingat bahwa program rehabilitasi perlu berjalan bersama pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas yang terbukti merusak kawasan pesisir.

 

Jangan sampai di satu lokasi masyarakat dan pemerintah menanam mangrove, sementara di lokasi lain vegetasi yang telah tumbuh justru mengalami kerusakan.

 

Persoalan tambang dan mangrove di Tempilang pada akhirnya menyentuh kehidupan masyarakat.

 

Ketika mangrove rusak, habitat biota dapat terganggu. Nelayan berpotensi kehilangan ruang tangkap. Apabila sumber daya yang mendukung penangkapan rebon berkurang, tradisi sungkur juga menghadapi ancaman.

 

Nilai timah dapat dihitung berdasarkan berat dan harga jual.

 

Namun nilai sebuah ekosistem tidak sesederhana itu.

 

Ada perlindungan pesisir, habitat biota, sumber penghidupan nelayan, serta pengetahuan lokal yang berkembang bersama lingkungan.

 

Ali masih membawa sungkurnya ke kawasan pesisir ketika air laut surut.

 

Namun pertanyaan tentang masa depan tradisi tersebut semakin besar.

 

Berapa lama sungkur masih dapat digunakan jika ekosistem yang menopangnya terus mengalami tekanan?

 

Sebab apabila generasi muda tidak lagi mengenal cara menggunakannya, sungkur bisa saja berubah menjadi benda lama yang hanya tersimpan sebagai pengingat.

 

Kelak, anak-anak mungkin hanya mengenalnya dari cerita orang tua.

 

“Dulu alat ini digunakan untuk apa?”

 

Pertanyaan itu bukan sekadar tentang sebuah alat tangkap.

 

Ia menjadi pertanyaan tentang bagaimana masyarakat menjaga lingkungan yang selama ini menjadi ruang hidup mereka.

 

Jika aktivitas penambangan yang merusak kawasan pesisir terus berlangsung, maka yang terancam bukan hanya mangrove.

 

Mata pencaharian nelayan, habitat biota, pengetahuan lokal, dan tradisi sungkur juga berada di ujung ancaman.

 

Di Tempilang, suara mesin tambang bukan hanya terdengar di antara pepohonan mangrove. Suara itu juga membawa pertanyaan tentang masa depan laut dan tradisi masyarakat yang hidup bergantung padanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *