DIBUKA DENGAN SALIB MERAH, DITUTUP DENGAN SHOLAT MAGHRIB: BUKTI NYATA KEINDAHAN PERSATUAN BANGSA INDONESIA

Nasional
Advertisements
Advertisements

**JAKARTA** — Sebuah pemandangan penuh makna dan menyentuh hati terlihat dalam aksi penyampaian aspirasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Momen tersebut menjadi gambaran nyata bahwa perbedaan keyakinan, agama, dan pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menjaga persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa.

Aksi tersebut diawali dengan simbol Salib Merah yang dibawa mahasiswa sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat di Papua. Simbol tersebut menjadi bagian dari pesan kepedulian dan keprihatinan mahasiswa terhadap persoalan yang tengah menjadi perhatian.

Namun, ada pemandangan yang jauh lebih menyentuh ketika waktu Maghrib tiba. Di tengah berlangsungnya aksi, saudara-saudara Muslim mengambil waktu untuk menunaikan ibadah Sholat Maghrib di lokasi kegiatan.

Suasana yang sebelumnya diwarnai penyampaian aspirasi berubah menjadi tenang. Tidak terlihat adanya keributan ataupun saling menghalangi. Mereka yang hendak beribadah diberikan ruang dan kesempatan, sementara peserta aksi lainnya menunggu dengan penuh kesabaran dan rasa hormat.

Peristiwa ini menjadi gambaran indah tentang toleransi yang tidak sekadar diucapkan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Tidak ada persoalan ketika perbedaan keyakinan hadir berdampingan, selama setiap orang memiliki kesadaran untuk saling menghargai.

Inilah wajah Indonesia yang sesungguhnya. Bangsa yang dibangun dari keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang, tetapi tetap memiliki satu tujuan, yakni menjaga persaudaraan, kedamaian, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Perbedaan bukan alasan untuk saling bermusuhan. Sebaliknya, keberagaman merupakan kekuatan besar yang harus dijaga bersama. Sikap saling menghormati seperti yang terlihat di Bundaran HI menjadi pengingat bahwa toleransi harus dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Momentum tersebut juga memberikan pesan penting kepada seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan. Kebebasan menyampaikan pendapat harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak orang lain untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

 

Pada akhirnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan masyarakat yang pandai berbicara tentang persatuan, tetapi juga masyarakat yang mampu membuktikannya melalui sikap dan perbuatan.

**Dibuka dengan simbol Salib Merah, ditutup dengan Sholat Maghrib. Sebuah potret toleransi yang mengingatkan kita bahwa meskipun berbeda keyakinan, kita tetap satu tanah air, satu bangsa, dan satu Indonesia.**

**Penulis

Aan Permadi**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *