BANGKA SELATAN — Keluhan petani kelapa sawit di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terkait turunnya harga tandan buah segar (TBS) kembali mendapat respons dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Respons tersebut disampaikan hanya sekitar 30 menit setelah pemberitaan mengenai keluhan petani terkait harga sawit diterbitkan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kurniawan, ST., MT., saat menanggapi pemberitaan tersebut menyampaikan bahwa pihaknya akan membahas persoalan harga sawit dalam rapat.
“Minggu depan kita rapat,” ujar Kurniawan saat memberikan tanggapan.
Pernyataan tersebut menjadi respons awal Pemprov Babel terhadap keluhan petani sawit Bangka Selatan yang berharap adanya perhatian pemerintah terhadap kondisi harga TBS yang saat ini mereka rasakan semakin menekan.
Sementara itu, salah satu petani sawit di Bangka Selatan yang tidak ingin namanya disebutkan menanggapi rencana rapat tersebut.
Menurutnya, yang dibutuhkan petani saat ini bukan sekadar pembahasan, melainkan adanya langkah nyata terhadap harga sawit yang mereka terima.
“Yang kami butuhkan menaikkan harga sawit, bukan rapat,” tegasnya.
Petani berharap pemerintah tidak berhenti pada pembahasan, tetapi dapat menghadirkan solusi konkret yang mampu memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani sawit.
Keluhan tersebut mencuat di tengah kondisi petani yang harus tetap menanggung biaya perawatan kebun, pupuk, tenaga panen, serta biaya operasional lainnya.
Bagi petani, harga TBS menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemampuan mereka mempertahankan kebun dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Dengan adanya respons dari Pemprov Babel, petani kini menunggu hasil rapat yang dijanjikan pada pekan depan serta langkah konkret pemerintah terhadap persoalan harga TBS yang mereka keluhkan.
Redaksi akan terus memantau perkembangan kebijakan dan hasil pembahasan pemerintah terkait harga sawit tersebut. ( Abi )

