**BATAM** – Memasuki usia ke-55, Badan Pengusahaan (BP) Batam terus mendorong pertumbuhan investasi dan ekonomi daerah. Namun, peningkatan tersebut dinilai perlu diikuti pemerataan manfaat pembangunan, terutama dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keandalan layanan air bersih bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, dalam refleksinya menjelang peringatan HUT ke-55 BP Batam. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.
Berdasarkan pemantauan BP Batam dengan metode *bottom-up*, realisasi investasi pada Semester I 2026 mencapai Rp38,97 triliun atau 55,67 persen dari target tahunan sebesar Rp70 triliun.
Dari sisi ekonomi, Batam mencatat pertumbuhan sebesar 6,76 persen sepanjang 2025 dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp253,64 triliun. Sementara itu, pada Triwulan II 2026, ekonomi Batam tumbuh 7,28 persen secara tahunan, melampaui pertumbuhan Provinsi Kepulauan Riau sebesar 6,99 persen dan nasional sebesar 5,29 persen.
Indikator pembangunan manusia juga menunjukkan peningkatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam naik dari 83,32 pada 2024 menjadi 83,80 pada 2025. Tingkat kemiskinan turut turun dari 4,85 persen menjadi 3,81 persen pada periode yang sama.
Adapun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun dari 8,14 persen pada 2023 menjadi 7,68 persen pada 2024, kemudian 7,57 persen pada 2025.
Meski demikian, Fary mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat persoalan masyarakat terabaikan. Menurutnya, masih ada pencari kerja yang membutuhkan kesempatan serta keluarga yang menghadapi ketidakpastian pendapatan.
“Angka investasi menunjukkan besarnya kegiatan ekonomi. Kehidupan warga memperlihatkan sejauh mana manfaatnya dirasakan,” tulis Fary dalam refleksinya.
## Belajar dari Korea Selatan untuk Ketahanan Air Batam
Selain pemerataan manfaat investasi, Fary menyoroti persoalan ketersediaan air baku yang masih menjadi tantangan bagi Batam. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran yang dibawanya setelah mengunjungi fasilitas K-water di Korea Selatan.
Dalam kunjungan ke kawasan Danau Sihwa, ia mempelajari pendekatan pengelolaan air yang membedakan layanan untuk kebutuhan industri dan domestik. Di kawasan Sihwa–Siheung dan Ansan, pengelolaan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri sekaligus permukiman.
Fary juga menyoroti fasilitas desalinasi di Kawasan Industri Daesan, Kota Seosan. Fasilitas yang diresmikan pada Desember 2025 itu menggunakan teknologi *Seawater Reverse Osmosis* (SWRO), yakni pemisahan garam dari air laut melalui membran bertekanan tinggi.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas 100.000 meter kubik per hari untuk memasok kebutuhan empat perusahaan industri.
Menurut Fary, pengalaman Korea Selatan memberikan pelajaran bagi Batam dalam merencanakan layanan air sesuai kebutuhan serta mengembangkan sumber air alternatif dari laut. Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan biaya, keandalan energi, kualitas air, dan perlindungan lingkungan.
## Kebutuhan Air Batam Diproyeksikan Terus Meningkat
Berdasarkan proyeksi BP Batam, neraca air baku Pulau Batam saat ini menunjukkan kebutuhan sebesar 4.928 liter per detik, sedangkan kapasitas yang tersedia mencapai 4.482 liter per detik. Kondisi tersebut menyisakan defisit 446 liter per detik pada musim kering.
BP Batam telah menyusun rencana penambahan kapasitas untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan air di masa mendatang.
Pada 2027, kapasitas air baku diproyeksikan mencapai 6.186 liter per detik, sementara kebutuhan diperkirakan sebesar 5.681 liter per detik. Dengan demikian, terdapat potensi surplus 505 liter per detik.
Sementara itu, pada 2032, kapasitas diproyeksikan meningkat menjadi 9.876 liter per detik dengan kebutuhan sebesar 6.672 liter per detik. Proyeksi tersebut menghasilkan surplus 3.204 liter per detik.
Meski demikian, Fary menegaskan bahwa proyeksi surplus tersebut bergantung pada realisasi seluruh program penambahan kapasitas dan kontribusi pihak swasta.
Ketersediaan air baku, lanjutnya, juga harus didukung kapasitas pengolahan, jaringan distribusi, pengurangan kebocoran, serta keandalan pompa dan pasokan listrik.
“Surplus dalam neraca harus sampai ke keran warga,” tegasnya.
## Dorong Kepercayaan Publik dan Perbaikan Layanan
Fary menilai, pembangunan Batam membutuhkan kepercayaan publik yang dibangun melalui keterbukaan, tindak lanjut keluhan, dan kepastian penyelesaian proyek.
Ia menegaskan bahwa kritik masyarakat tidak seharusnya menghapus capaian yang telah diraih. Sebaliknya, dukungan terhadap BP Batam juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan persoalan yang masih dihadapi warga.
Sebagai bagian dari pimpinan BP Batam, Fary menyatakan bahwa pihaknya turut memikul tanggung jawab untuk memastikan pembangunan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, momentum HUT ke-55 BP Batam harus menjadi dorongan untuk memperkuat penciptaan lapangan kerja, meningkatkan keandalan pelayanan publik, dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
Ia berharap Batam terus berkembang sebagai kawasan investasi yang kompetitif, sekaligus menjadi kota yang mampu memberikan kesejahteraan dan pelayanan yang semakin baik bagi seluruh masyarakat.
**“Mari kita satukan langkah mewujudkan Batam Maju: investasi melonjak, lapangan kerja meluas, pelayanan semakin andal, dan setia keluarga merasakan manfaat pembangunan,”** tutup Fary.
Dimas

