Wangsit Gunung Maras: Ramalan Calon Wali Kota Pangkalpinang 2025

Bangka Belitung Daerah Opini Pangkalpinang Politik Tokoh Publik
Advertisements
Advertisements

Opini oleh: Muhamad Zen Pengamat dan Kritikus Politik Lokal (sekaligus penerima wangsit paruh waktu)

PILKADA Ulang Pangkalpinang 2025 dijadwalkan 27 Agustus. Tapi suasananya sudah seperti malam takbiran, baliho menjamur seperti spanduk diskon akhir tahun, senyum para calon lebih terang dari lampu jalan, dan klaim partai berseliweran lebih cepat dari undangan kawinan.

Daripada menebak lewat poster atau bisik-bisik warung kopi, saya memilih naik ke tempat yang sunyi tapi sakral: puncak Gunung Maras. Di sanalah, di antara kabut dan desir angin, saya menerima wangsit politik—bisikan halus yang tak bisa diuji statistik, tapi kadang lebih jujur dari rapat Koalisi partai tengah malam.

Mari kita bahas isi wangsit yang diterima diatas puncak gunung maras, santai tapi serius. Percaya boleh, nggak percaya nggak boleh, Toh, namanya juga politik, detik ini bilang A, menit kemudian jadi B, satu jam kemudian berubah C. Sudahlah, yang penting ngopi dulu..

MOLEN: TURUN DARI KERETA LAMA NAIK KE BURUNG BESI

Sang petahana, Maulan Aklil alias Molen, disebut sudah tak lagi naik kereta politik lamanya. Entah bannya bocor atau kernetnya pindah trayek, kini ia disebut-sebut berganti kendaraan ke partai berlambang burung garuda—bukan maskapai, tapi partai besar yang tengah bersinar di pusat.

Ia dikabarkan menggandeng Zeky Yamani (anggota DPRD Provinsi dari Demokrat). Tapi jika benar, Zeky harus siap-siap PAW, karena jabatan tidak bisa ditumpuk seperti piring kotor.

BASIT: YANG PENTING TAMPIL DULU, REKOM BELAKANGAN

Sementara itu, Basit sudah duluan menebar senyum lewat baleho sebelum rekomendasi turun, Logo Gerindra dan foto Prabowo sudah lebih dulu wara-wiri di tiang listrik kota.

Tapi dari wangsit, justru Basit disebut berteduh di bawah pohon beringin—Partai Golkar. Ia akan berpasangan dengan Ustadz Dede Purnama (UDP), sosok religius yang dulu berikrar tak akan maju kalau bukan nomor satu. Tapi itulah politik: kadang bahkan ustadz pun harus belajar istikharah di persimpangan posisi.

Kader Gerindra pun bingung, “Kok udah berani pasang baliho pakai logo Gerindra, padahal belum pasti?”. Basit dinilai sebagai sosok yang suka mengklaim daripada memastikan dan kadang lebih percaya diri sebelum benar-benar pegang SK, tapi begitulah politik: terkadang yang menang bukan yang paling siap, tapi yang paling nekat tampil.

PDI-P: PROFESOR UDIN, KABUT DAN DUGAAN MASALAH HUKUM

Dari kubu PDI Perjuangan, muncul nama Prof. Udin. Sosok akademisi yang katanya hafal pasal-pasal otonomi daerah lebih dari lirik lagu nasional. Wangsit menyebut ia menunggangi kendaraan banteng merah.

Namun, sayangnya, angin Maras juga membawa kabar kurang sedap. Profesor yang satu ini tengah galau antara maju atau berurusan dengan laporan hukum. Sebab, salah satu LSM disebut telah melaporkannya terkait dugaan penyimpangan dana saat menjabat Ketua BUMD yang dibiayai APBD Provinsi Babel. Politik memang kejam: kadang baru mau jalan, sudah disalip laporan.

SOAL WAKILNYA? KABUT GUNUNG MARAS MENYEBUT DUA NAMA PEREMPUAN:

Dessy, anggota DPRD Kota dari dapil Pangkalbalam- Tamansari—ramah dan dekat rakyat.

Merry, kader muda partai yang dikenal dekat dengan elite pusat.

Tapi ya, belum jelas siapa yang betul-betul digandeng. Baru kode-kode tipis ala politisi yang “fokus dulu di dewan.”

PAW: SIAP-SIAP ANGKAT KOPER Dari GEDUNG DEWAN

Wangsit juga mengingatkan soal PAW yang siap menghampiri sejumlah politisi jika benar-benar maju:

Monica Haprinda, istri Molen anggota DPRD Provinsi dari PDI-P. Jika Molen pindah kendaraan, Monica bisa terseret.

Zeky Yamani, otomatis harus siap lepas kursi jika maju.

Dessy, juga harus siap meninggalkan dewan kalau dipilih mendampingi Prof. Udin.

Belum kampanye, tapi daftar orang yang harus pamit dari kursi sudah mulai panjang.

POROS KEEMPAT: MASIH TERLIHAT KALEM DAN TENANG

Wangsit menyebut adanya potensi poros baru dari PAN, PKB, dan PPP. Tiga partai ini memang masih kalem, tapi bukan berarti kosong. Mereka sedang menyusun langkah.

Salah satu nama yang santer disebut: Sopian, mantan Wakil Wali Kota. Ia bisa jadi figur alternatif yang melaju jika tiga partai ini bersatu. Dalam politik, yang kalem seringkali membuat kejutan.

Sementara itu, banyak nama yang ramai di baliho, tapi sepi kendaraan pelan-pelan mulai gugur. Ada yang kehabisan ongkos, ada yang tak cocok dengan pemilik tiket. Di politik lokal, baliho murah dicetak, tapi mahal dipertahankan.

UPS… KITA LUPA CALON YANG SUDAH PASTI!

Sibuk membahas partai dan wangsit, kita nyaris lupa pasangan yang paling pasti ikut bertarung: Eka Mulya Putra dan Radmida Dawam. Pasangan jalur independen ini sudah resmi dinyatakan lolos oleh KPU.

Di tengah riuhnya para Paslon yang masih cari kendaraan, pasangan independen ini justru jadi kuda hitam yang paling siap tempur. Bahkan disebut-sebut jadi yang paling diperhitungkan partai lain.

Pertarungan kali ini jadi semakin seru, karena sudah berubah jadi pertarungan marwah dan harga diri partai politik : calon partai melawan calon rakyat.

PENUTUP: DARI KABUT, KITA MENUJU BILIK SUARA

Tulisan ini bukan hasil survei, bukan pula bocoran elite partai. Ini murni tafsir spiritual dari Gunung Maras, dibumbui kopi pahit dan sedikit keusilan khas jurnalis lokal.

Percaya boleh, anggap hiburan pun tak masalah. Tapi satu hal pasti: yang menentukan bukan baliho, bukan grup WhatsApp, tapi bilik suara.
Sampai hari itu tiba, nikmati saja drama politik lokal ini—lengkap dengan bumbunya, kejutannya, dan tentu saja dengan secangkir kopi hitam yang pahit.
Salam dari Gunung Maras!

Tentang Penulis
Muhamad Zen adalah wartawan sekaligus pengamat politik lokal yang konon lulusan Universitas Gunung Maras (UGM)—Fakultas Ilmu Politik Perkeliruan. Kampus spiritual yang tak ditemukan di data Dikti, tapi sering dijumpai dalam obrolan warung kopi.

Meski lebih sering nongkrong ketimbang kuliah, Zen dikenal lewat tulisannya yang menyentil, menyegarkan ruang publik, dan memancing diskusi serius dari warung hingga ruang Kantor Pemerintahan.
Ia memegang prinsip unik dalam menulis:
“Semakin banyak yang marah karena tulisan saya, itu tandanya saya wartawan. Kalau semua senang, mungkin saya wartabayaran.”
———————–

Catatan Redaksi
Isi opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.
Bagi pihak yang merasa dirugikan atau keberatan atas penyajian artikel ini, Anda berhak mengirimkan hak jawab atau klarifikasi kepada redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Sanggahan dapat dikirim melalui email atau WhatsApp redaksi yang tercantum pada box redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *