BANGKA BELITUNG — Sepak bola Bangka Belitung kembali dipaksa menelan pertanyaan besar. Piala Soeratin 2026 tak bergulir, sementara para pemain muda yang telah menjalani seleksi dan latihan berbulan-bulan harus kehilangan kesempatan tampil di panggung kompetisi.jumat(11/9/2026)
Ini bukan sekadar persoalan satu turnamen.
Ini menyangkut masa depan pemain muda yang sudah berlatih, pelatih yang telah mempersiapkan tim, serta orang tua yang memberikan dukungan.
Ketika kompetisi yang seharusnya menjadi pintu menuju panggung nasional tidak terlaksana, publik pantas bertanya: sebenarnya ke mana arah pembinaan sepak bola Bangka Belitung?
Sorotan pun mengarah kepada Asprov PSSI Bangka Belitung dan kepemimpinan Ketua Akwen.
REGULASI BELUM TURUN, LALU APA YANG DILAKUKAN?
Akwen sebelumnya menjelaskan bahwa masa kepengurusan PSSI Babel telah berakhir pada Agustus 2026. Ia juga menyebut PSSI Babel tidak berani menggelar Piala Soeratin karena regulasi serta surat edaran PSSI Pusat terkait putaran nasional belum diterima.
Klarifikasi tersebut tentu harus dihormati.
Namun publik tidak dilarang bertanya.
Apakah persoalan sepak bola daerah cukup berhenti pada kalimat “menunggu regulasi”?
Ketika regulasi belum diterima, justru di situlah kemampuan organisasi diuji. Seberapa aktif melakukan komunikasi? Seberapa intens meminta kepastian kepada PSSI Pusat? Seberapa jauh memperjuangkan kepentingan pemain dan klub?
Pertanyaan itu penting karena yang menunggu bukan hanya pengurus.
Yang menunggu adalah pemain muda yang waktunya terus berjalan.
BERLATIH BERBULAN-BULAN, TAPI TIDAK ADA PANGGUNG
Para pemain telah menjalani persiapan. Pelatih telah membangun tim. Orang tua telah memberikan dukungan.
Tetapi pertandingan yang menjadi tujuan latihan tidak kunjung hadir.
Ironisnya, pemain muda tidak bisa terus berada dalam ruang latihan tanpa kepastian kompetisi.
Bakat membutuhkan panggung. Prestasi membutuhkan pertandingan. Dan pemain muda membutuhkan kesempatan.
Jika kesempatan tersebut hilang, maka pembinaan sepak bola Babel kembali dipertanyakan.
PSSI BABEL JANGAN HANYA BERBICARA ADMINISTRASI
Publik membutuhkan organisasi sepak bola yang mampu bekerja lebih jauh daripada sekadar menjalankan administrasi.
PSSI Babel harus mampu membangun komunikasi dengan PSSI Pusat, klub, pelatih dan pemerintah daerah agar setiap agenda pembinaan memiliki kepastian.
Kalaupun terdapat kendala regulasi, publik berhak mengetahui apa solusi yang sudah diperjuangkan dan bagaimana nasib pemain selama proses tersebut berlangsung.
Jangan sampai persoalan administratif akhirnya membuat pemain muda menjadi pihak yang paling dirugikan.
Gubernur Hidayat Arsani DAN DPRD BABEL DIMINTA EVALUASI
Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dan DPRD Babel patut memberikan perhatian terhadap kondisi pembinaan sepak bola usia muda.
Evaluasi diperlukan untuk melihat persoalan secara menyeluruh, bukan untuk mencari kambing hitam.
Apakah masalahnya berada pada regulasi PSSI Pusat? Koordinasi? Komunikasi? Kesiapan penyelenggaraan? Atau ada persoalan lain yang perlu dibenahi?
Semua harus dibuka berdasarkan fakta.
Jika evaluasi organisasi kemudian menunjukkan adanya persoalan dalam kepemimpinan atau kinerja, maka mekanisme organisasi mengenai evaluasi maupun regenerasi kepemimpinan harus dijalankan secara transparan dan sesuai aturan.
SEPAK BOLA BABEL BUTUH PEMIMPIN YANG BERANI
Sepak bola Babel tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan.
Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu memastikan kompetisi hidup.
Pemimpin sepak bola harus memahami bahwa pemain muda tidak hanya membutuhkan seragam dan latihan, tetapi juga kompetisi yang berkelanjutan.
Jangan sampai Babel terus berbicara mengenai pembinaan pemain muda, tetapi ketika kesempatan bertanding datang, justru panggungnya tidak tersedia.
PUBLIK MENUNGGU JAWABAN
Kini pertanyaan publik semakin jelas:
Mengapa Soeratin 2026 tidak bergulir?
Apa saja langkah konkret yang telah dilakukan PSSI Babel untuk memperoleh kepastian dari PSSI Pusat?
Mengapa pemain yang telah berlatih berbulan-bulan harus kehilangan kesempatan?
Dan yang paling penting:
Apa jaminannya persoalan serupa tidak kembali terjadi?
PSSI Babel harus menjawabnya secara terbuka.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar sukses atau gagalnya sebuah turnamen.
Yang dipertaruhkan adalah kesempatan satu generasi pemain muda Bangka Belitung untuk membawa nama daerah ke panggung nasional.
Jika sepak bola Babel ingin maju, maka evaluasi tidak boleh dianggap sebagai ancaman.
Evaluasi adalah keharusan ketika prestasi dan pembinaan mulai dipertanyakan.
Kini publik menunggu: PSSI Babel akan menjawab kritik dengan alasan, atau membuktikannya dengan perubahan dan kerja nyata?

