Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
MENTOK, BANGKA BARAT — Masa depan sebuah daerah sering kali dibicarakan dalam bahasa angka pertumbuhan ekonomi, investasi, infrastruktur, hingga jumlah penduduk.
Namun, ada satu angka yang jauh lebih sulit dihitung, berapa banyak anak hari ini yang kelak tumbuh menjadi manusia berkualitas.
Pertanyaan itulah yang menemukan jawabannya di ruang-ruang kelas SMP Negeri 3 Mentok, ketika sekolah tersebut bersiap melangkah menuju penilaian Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) tingkat nasional.
Bagi Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., SSK bukan sekadar perlombaan antarsekolah.
Lebih jauh dari predikat paripurna, SSK adalah cara menanam kesadaran bahwa pembangunan keluarga harus dimulai sejak seorang anak masih duduk di bangku sekolah.
“SSK sebagai barometer pembangunan keluarga melalui jenjang pendidikan. Peserta didik adalah generasi muda sebagai sumber daya pembangunan manusia yang harus menjadi generasi ke depan yang tangguh, cerdas, sehat dan berkualitas sebagai tonggak estafet pembangunan bangsa,” kata Sarbudiono.
Kalimat itu menjadi benang merah pemikirannya.
Sebab bagi Sarbudiono, anak-anak yang sekarang belajar di SMP bukan sekadar peserta didik.
Mereka calon orang tua.
Calon pemimpin keluarga.
Calon pekerja.
Calon penggerak masyarakat.
Pada akhirnya, mereka sebagai manusia yang akan menentukan seperti apa wajah Bangka Barat pada masa mendatang.
Pada Senin, 10 Agustus 2026, SMP Negeri 3 Mentok menjadi lokasi visitasi dan validasi data pendukung penilaian SSK.
Sekolah tersebut terseleksi sebagai wakil Bangka Barat pada jenjang SMP untuk mengikuti penilaian nasional dan diusulkan mencapai tingkat paripurna, jenjang tertinggi dalam SSK.
Langkah itu tidak datang tanpa alasan.
SMP Negeri 3 Mentok sebelumnya telah memiliki prestasi di tingkat provinsi. Kini sekolah tersebut kembali diberi kepercayaan untuk membawa nama Bangka Barat ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun Sarbudiono menekankan, keberhasilan tidak boleh berhenti pada capaian administratif.
Seluruh bukti pendukung harus dipenuhi, tetapi substansi SSK jauh lebih penting daripada sekadar kelengkapan dokumen.
“Ketika ada kekurangannya, mohon segera melakukan kelengkapan sehingga bisa disupport. Harapannya tadi dengan bismillah bisa meningkat ke tingkat nasional,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).
Di balik proses verifikasi itu terdapat harapan lain.
SMP Negeri 3 Mentok nantinya diharapkan menjadi sekolah pengampu SSK di Bangka Barat, sehingga pengalaman dan praktik baik yang telah dibangun dapat ditularkan kepada sekolah lain.
Dengan demikian, sebuah prestasi tidak berhenti sebagai milik satu sekolah.
Ia menjadi pintu bagi perubahan yang lebih luas.
Menurut Sarbudiono, pendidikan kependudukan tidak harus berdiri sebagai pelajaran yang terpisah dari kehidupan siswa.
Kesadaran tentang keluarga, kesehatan, kehidupan sosial dan perencanaan masa depan justru dapat diselipkan dalam berbagai mata pelajaran.
Sosiologi.
Biologi.
Bahasa.
Agama.
Semua dapat menjadi pintu masuk untuk membangun cara berpikir generasi muda.
Begitu pula kegiatan Pramuka, OSIS, PIK-R, drumband, remaja masjid, Genre dan berbagai kegiatan lainnya.
“Pola pembelajaran dapat diterapkan dalam mata pelajaran sosiologi, biologi, bahasa, agama serta ekstrakurikuler seperti Pramuka, OSIS, PIK-R, drumband, remaja masjid, Genre dan lain-lain,” tutur Sarbudiono.
Di situlah makna SSK menjadi lebih dalam.
Anak-anak tidak hanya diajarkan bagaimana memperoleh nilai.
Mereka diajarkan bagaimana menjalani kehidupan.
Mereka belajar bahwa kesehatan memengaruhi kualitas hidup.
Bahwa pergaulan menentukan lingkungan pertumbuhan.
Bahwa pendidikan menentukan cara berpikir.
Bahwa keputusan hari ini dapat menentukan masa depan.
Dan bahwa keluarga yang kuat harus dibangun oleh manusia yang memiliki kesiapan.
Bagi Sarbudiono, pembangunan kependudukan pada akhirnya bermuara pada satu hal dalam manusia.
Jumlah penduduk mungkin dapat dihitung.
Namun kualitas manusia tidak cukup ditulis dalam statistik.
Ia terlihat dari kesehatan, pendidikan, karakter, kemampuan mengambil keputusan dan kesiapan membangun kehidupan.
Karena itu, remaja menjadi kelompok yang sangat penting.
Mereka berada pada fase ketika identitas sedang tumbuh dan masa depan mulai dirancang.
Jika ruang pertumbuhan mereka dipenuhi pengetahuan dan kegiatan yang positif, maka sekolah telah membantu menyiapkan manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan.
“Semua waktu remaja atau peserta didik terisi dengan kegiatan yang bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan dalam mempersiapkan hari depan yang mampu menjadi bagian keluarga yang tangguh,” katanya.
Dalam perspektif itu, SSK bukan sekadar program pendidikan.
Ia adalah investasi lintas generasi.
Anak yang dipersiapkan hari ini akan menjadi orang dewasa pada masa mendatang.
Orang dewasa itu akan membangun keluarga.
Keluarga itu akan membesarkan anak-anak berikutnya.
Maka ketika sekolah mengajarkan kesadaran kependudukan kepada seorang remaja hari ini, sesungguhnya sekolah sedang menyentuh kehidupan generasi yang bahkan belum lahir.
Ada sisi personal dalam perjalanan Sarbudiono yang membuat gagasan tentang pendidikan dan pembelajaran terasa dekat.
SMP Negeri 3 Mentok bukan tempat yang asing baginya.
Ia pernah menjadi guru di sekolah tersebut setelah mutasi dari Palembang.
Selama empat tahun, ia mengabdi di sana.
Kini ia kembali dengan peran berbeda sebagai kepala dinas yang ikut mendorong sekolah itu menuju panggung nasional.
“Saya alumni dari sini, bukan alumni siswa, alumni guru di sini. Saya pertama sekali mutasi dari Palembang ditempatkan di SMP Negeri 3 Mentok. Empat tahun saya di SMP Negeri 3 Mentok,” ungkapnya.
Perjalanan kariernya kemudian membawanya ke berbagai bidang.
Ia pernah memimpin sekolah kejuruan, menjadi pengawas, menangani bidang pendidikan anak usia dini dan menjalani tugas di lingkungan pemerintahan dengan urusan yang berbeda-beda.
Perpindahan itu tidak selalu mudah.
Ada bidang yang sebelumnya tidak ia kuasai.
Ada pekerjaan yang memaksanya keluar dari zona nyaman.
Tetapi justru dari sanalah ia menemukan satu pelajaran yang terus dibawanya.
“Belajar tidak harus dengan orang lebih tua. Kadang-kadang dengan lebih muda, ketika dia punya ilmu, belajar. Tidak apa-apa. Harus belajar,” ujarnya.
Pesan itu sederhana, tetapi sangat dekat dengan roh pendidikan.
Bahwa tidak ada manusia yang selesai belajar.
Dan pembangunan manusia pun tidak akan pernah selesai dalam satu generasi.
Sarbudiono juga mengingatkan bahwa sekolah tidak dapat bekerja sendirian.
Program SSK membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah.
Sekolah.
Orang tua.
Dunia usaha.
Perkebunan.
Organisasi masyarakat.
Berbagai perangkat daerah.
DP3AP2KB Bangka Barat sendiri telah membangun kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk dunia usaha, sektor perkebunan dan dinas terkait.
“Perlu sedikit kita membuka wawasan, memperbanyak lagi kerja sama dengan seluruh instansi terkait. Tidak terfokus saja dengan dunia pendidikan, tetapi juga dengan semua stakeholder karena semuanya saling berkaitan,” katanya.
Pesan itu menunjukkan cara pandang Sarbudiono yang menempatkan pembangunan keluarga sebagai pekerjaan bersama.
Sebab seorang anak tidak tumbuh hanya dari apa yang ia dengar di kelas.
Ia tumbuh dari keluarga.
Lingkungan.
Pergaulan.
Masyarakat.
Dan kesempatan yang diberikan kepadanya.
Maka semakin banyak tangan yang ikut menjaga proses tersebut, semakin besar peluang seorang anak tumbuh menjadi manusia yang berkualitas.
Ada perjalanan yang menarik dalam sosok Sarbudiono.
Ia memulai sebagian pengabdiannya dari ruang kelas.
Kini ia berada di posisi yang memungkinkan dirinya melihat pendidikan dari perspektif yang lebih luas.
Bukan hanya bagaimana anak belajar, tetapi bagaimana pendidikan berkaitan dengan keluarga, kependudukan, perlindungan anak dan pembangunan manusia.
Karena itu, ketika berbicara tentang SSK, Sarbudiono tidak berhenti pada istilah teknis.
Ia berbicara tentang masa depan.
Tentang keluarga.
Tentang manusia.
Tentang anak-anak yang hari ini mungkin belum memahami sepenuhnya mengapa mereka perlu belajar tentang kependudukan.
Kelak mereka mungkin baru memahami maknanya ketika telah menjadi orang tua.
Saat itu, pengetahuan yang ditanamkan di bangku sekolah akan menemukan bentuknya dalam kehidupan nyata.
Di akhir pidatonya, Sarbudiono menyampaikan pesan yang sederhana.
“Yang penting kerjakan apa yang bisa kita kerjakan maksimal. Jangan banyak berbicara, banyaklah berbuat.” tutupnya.
Kalimat tersebut terasa seperti prinsip yang ingin ia bawa dalam menjalankan pengabdian.
SSK tidak cukup dibicarakan.
Sekolah harus bergerak.
Guru harus mengajarkan.
Orang tua harus mendampingi.
Pemerintah harus memfasilitasi.
Stakeholder harus mendukung.
Anak-anak harus diberi ruang untuk tumbuh.
Jika SMP Negeri 3 Mentok akhirnya mencapai tingkat paripurna dan melangkah ke tingkat nasional, capaian itu tentu menjadi kebanggaan Bangka Barat.
Namun bagi Sarbudiono, penghargaan hanyalah satu bagian kecil.
Tujuan yang lebih besar adalah memastikan sekolah mampu menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memahami dirinya, keluarganya dan masa depannya.
Pembangunan manusia memang berbeda dengan membangun sebuah jalan.
Jalan bisa selesai dalam hitungan bulan.
Gedung bisa berdiri dalam hitungan tahun.
Tetapi manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Karakter dibentuk perlahan.
Pengetahuan tumbuh bertahap.
Kematangan lahir dari pengalaman.
Kualitas sebuah keluarga baru terlihat setelah generasi demi generasi menjalaninya.
Karena itu, SSK di SMP Negeri 3 Mentok sesungguhnya sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sebuah penilaian.
Ia sedang menanam.
Menanam pengetahuan.
Menanam kesadaran.
Menanam tanggung jawab.
Menanam harapan.
Sarbudiono, dengan perjalanan panjangnya dari seorang guru hingga menjadi kepala dinas, kini berada di salah satu simpul penting dari proses tersebut.
Ia pernah berdiri di depan kelas sebagai pendidik.
Kini ia berdiri di tengah ekosistem pembangunan keluarga sebagai penggerak kebijakan.
Tempatnya berubah.
Tanggung jawabnya bertambah.
Tetapi satu hal tetap sama tentang keyakinan bahwa masa depan harus dipersiapkan sejak sekarang.
Sebab anak-anak yang duduk di bangku SMP hari ini adalah wajah Bangka Barat pada masa depan.
Dan jika mereka tumbuh menjadi generasi yang tangguh, cerdas, sehat dan berkualitas, maka sesungguhnya pembangunan daerah telah menemukan fondasinya.
Dari sekolah, menuju keluarga. Dari keluarga, menuju masyarakat. Dan dari manusia yang berkualitas, menuju masa depan Bangka Barat yang berkelanjutan.

