JAKARTA – “KITA HARUS BELAJAR DARI IRAK. DUNIA TIDAK BOLEH TERTIPU LAGI.” Kalimat itu kembali viral 20 tahun setelah invasi Amerika Serikat ke Irak. Bukan karena nostalgia, tetapi karena luka yang sama terasa mau diulang.
NARASI YANG MEMBUNUH, 20 tahun lalu dunia percaya satu narasi: Irak memiliki senjata pemusnah massal. Bukti ditunjukkan di PBB. Media global mengulang berita 24 jam tiada henti. Alasannya mulia: demi “demokrasi” dan “keamanan dunia”.
FAKTANYA YANG TELANJANG. Hari ini kita tahu faktanya. Tidak ada senjata pemusnah massal, tidak ada, yang ada hanya reruntuhan, 1 juta lebih korban sipil, dan sebuah negara yang hancur sampai ke akarnya.
FITNAH PALING KEJAM YANG DILAKUKAN AS, itulah fitnah yang paling kejam di abad 21. Fitnah yang dilegalkan negara, dibungkus resolusi, dan dibayar dengan darah anak-anak dan kaum sipil.
Dulu diejek. Dulu dituduh. Sekarang tidak terbukti bahwa Irak punya senjata pemusnah massal.”FITNAH terhadap IRAK tidak terbukti!!!”
SEJARAH KELAM JANGAN BERULANG, masalahnya, sejarah berulang kalau kita melupakan kejahatan perang tersebut. Dan sekarang, narasi yang sama mulai dibangun Kembali hanya namanya beda. Wajahnya beda. Sasarannya: Negara Islam Iran.
Polanya selalu sama. Tahap 1: Tuduh. Tahap 2: Isolasi. Tahap 3: Bom atas nama “pencegahan”. Tahap 4: Minta maaf 20 tahun kemudian.
SIAPA KORBANNYA? Korbannya rakyat sipil. Selalu rakyat sipil. Bukan pembuat kebijakan. Bukan pemilik kilang. Tapi guru, dokter, pedagang, dan anak sekolah yang rumahnya jadi puing dan Masyarakat dunia yang mendapat tekanan ekonomi akibat perang yang diciptakan.
SIAPA YANG UNTUNG? Yang diuntungkan? Selalu sama. Kompleks industri militer, perusahaan energi, dan kekuatan geopolitik yang ingin mengontrol Selat Hormuz dan cadangan minyak.
Pelajaran pertama dari Irak: Jangan mudah percaya narasi yang dibuat untuk membenarkan perang. Ketika intelijen, media, dan politisi tiba-tiba satu suara, itu bukan konsensus. Itu koordinasi.
Pelajaran kedua: Bukti harus diuji, bukan diimani. Tuduhan “senjata rahasia” tanpa verifikasi independen adalah resep bencana bagi Masyarakat dunia.
Pelajaran ketiga: Diam adalah persetujuan. Ketika dunia diam saat Irak difitnah, maka dunia ikut jadi kaki tangan.
Ingat Iran bukan Irak. Tapi mekanisme pemfitnahannya hamper mirip. Kata “nuklir” dipakai seperti dulu kata “WMD” yang dipakai. Tujuannya satu: menciptakan ketakutan publik agar perang terlihat masuk akal.
Biaya manusia dari kebohongan Irak belum lunas. Anak-anak Irak hari ini masih lahir dengan kanker karena uranium. Pengungsi masih hidup di tenda-tenda.
Narasi berbahaya karena ia membunuh sebelum peluru ditembakkan. Ia membuat publik setuju dulu, baru menyesal belakangan.
Media punya tanggung jawab. Jangan jadi corong. Uji silang. Tanya data. Tanya motif. Karena setiap headline perang dimulai dari satu kalimat yang tidak dipertanyakan.
Publik juga punya tanggung jawab. Stop share potongan video tanpa konteks. Stop percaya “bukti rahasia” yang tidak bisa diakses.
Dunia tidak butuh perang baru. Dunia butuh mekanisme damai, inspeksi transparan, dan hukum internasional yang adil, bukan hukum rimba.
Jika kita diam hari ini saat Iran difitnah dengan skenario Irak, maka 20 tahun lagi anak cucu kita akan bertanya: “Kenapa kalian tidak belajar?”Cukup. Jangan ulangi. Karena negara boleh runtuh oleh bom, tetapi peradaban tidak boleh runtuh karena kebohongan yang kita biarkan.
Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn Praktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI

